Yaitu perayaan yang diadakan untuk
memperingati Tahun Baru Imlek dengan perpaduan budaya Tionghoa-Jawa.
Festival yang dimulai sejak 2007 ini biasa dipusatkan di daerah Pasar
Gedhe dan Balong (di kelurahan Sudiroprajan) dan Balai Kota Solo.
Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Senin, 04 Januari 2016
Solo Batik Carnival
Solo Batik Carnival adalah sebuah festival tahunan yang
diadakan oleh pemerintah Kota Surakarta dengan menggunakan batik sebagai
bahan utama pembuatan kostum. Para peserta karnaval akan membuat kostum
karnaval dengan tema-tema yang di tentukan. Para peserta akan
mengenakan kostumnya sendiri dan berjalan di atas catwalk yang berada di
jalan Slamet Riyadi. Karnaval ini diadakan setiap tahun pada bulan Juni
sejak tahun 2008.Kirab Pusaka 1 Suro
Yaitu acara yang ditujukan untuk
merayakan tahun baru 1 suro. Rute yang ditempuh kurang lebih sejauh 3
km, yaitu Keraton – Alun-alun Utara – Gladak – Jl. Mayor Kusmanto – Jl.
Kapten Mulyadi – Jl. Veteran – Jl. Yos Sudarso – Jl. Slamet Riyadi –
Gladak kemudian kembali ke Keraton lagi. Pusaka- pusaka yang memiliki
daya magis tersebut dibawa oleh para abdi dalem yang berbusana Jawi
Jangkep. Kirap yang berada di depan adalah sekelompok Kebo Bule bernama
Kyai Slamet sedangkan barisan para pembawa pusaka berada di belakangnya.
Acara ini di selenggarakan oleh Keraton Surakarta dan Puro
Mangkunegaran yang dilaksanakan pada malam hari menjelang tanggal 1
suro.
Tari Bedhaya Ketawang
Tari Bedhaya Ketawang adalah sebuah tari
yang amat disakralkan dan hanya digelar dalam setahun sekali. Konon di
dalamnya sang Ratu Kidul ikut menari sebagai tanda penghormatan kepada
raja-raja penerus dinasti Mataram.
Asal mulanya tari Bedhaya Ketawang hanya
diperagakan oleh tujuh wanita saja. Dalam perkembangan selanjutnya,
karena tari ini dianggap sebuah tarian khusus dan dipercaya sebagai tari
yang amat sakral kemudian diperagakan oleh sembilan orang.
Berbeda dengan tarian lainnya, Bedhaya
Ketawang ini semula khusus diperagakan oleh abdi dalem Bedhaya Keraton
Surakarta Hadiningrat. Iramanya pun terdengar lebih luruh (halus)
dibanding dengan tari lainnya semisal Srimpi, dan dalam penyajiannya
tanpa disertai keplok-alok (tepuk tangan dan perkataan)
Dikatakan tari Bedhaya karena tari ini
menyesuaikan dengan gendingnya, seperti Bedhaya Gending Ketawang Ageng
(Karya Penembahan Senapati) Bedhaya Gending Tejanata dan Sinom (karya PB
IX) Bedhaya Pangkur (karya PB VIII), Miyanggong (karya PB IV),
Duradasih (karya PB V), dan lainnya.
Siapa sebenarnya pencipta tari Bedhaya Ketawang itu sendiri sampai sekarang memang masih simpang siur.
Kebudayaan yang ada di Solo
Ada beragam kebudayaan yang ada di daerah Solo.
Sekaten
Yaitu perayaan yang dilaksanakan setiap
bulan mulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tanggal
12 Maulud diselenggarakan Grebeg Maulud. Kemudian diadakan pesta rakyat
selama dua minggu. Selama dua minggu ini pesta rakyat diadakan di
Alun-alun utara. Pesta rakyat menyajikan pasar malam, arena permainan
anak dan pertunjukan-pertunjukan seni dan akrobat. Pada hari terakhir
Sekaten, diadakan kembali acara Grebeg Maulud di Alun-alun Utara.
Rangkaian ritual adat Grebeg Maulud secara lengkap adalah :
1. Tabuhan Gamelan Pusaka Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari.
Memboyong gamelan pusaka dari keraton ke
Masjid Agung Solo kemudian menabuh gending Rambu dan Rangkur sebagai
prosesi Pembuka Maleman Sekaten. Ritual ini dilakukan pada tanggal 5
Mulud (Tahun Jawa). Kedua gamelan terus ditabuh hingga menjelang
pelaksanaan Grebeg Gunungan Sekaten tujuh hari kemudian.
2. Jamasan Meriam Pusaka Kyai Setomi
Menjamasi (membersihkan) meriam pusaka
yang terletak di Bangsal Witono, sitihinggil utara Keraton Kasunanan
Surakarta. Dilakukan 2 hari sebelum Grebeg Gunungan Sekaten.
3. Pengembalian Gamelan Pusaka ke dalam Keraton.
Pagi hari sebelum pemberian sedekah Raja,
para abdi dalem keraton memboyong kembali gamelan pusaka dari Masjid
Agung.. Gamelan Kyai Guntur Madu langsung dimasukkan ke dalam ruang
pusaka, sedangkan Kyai Guntur Sari dibawa ke depan Sasana Sewaka. Kyai
Guntur Sari akan dibawa dan ditabuh kembali untuk mengiringi Hajad Dalem
Gunungan Sekaten ke Masjid Agung
4. Pemberian sedekah Raja berupa gunungan di Masjid Agung
Raja Sinuhun Pakoeboewono memberikan
sedekah kepada rakyatnya berupa makanan tradisional dan hasil bumi yang
disusun dalam bentuk gunungan jaler (laki-laki) dan estri (perempuan).
Gunungan ini akan diarak menuju Masjid Agung diiringi oleh seluruh
sentana dan abdi dalem, para prajurit serta gamelan Kyai Guntur Sari
yang dimainkan sambil berjalan. Gunungan ini akan didoakan oleh ulama
Keraton di masjid Agung kemudian dibagikan kepada seluruh warga. Grebeg
Gunungan digelar bersamaan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yakni
tanggal 12 Mulud (Tahun Jawa).
Langganan:
Postingan (Atom)



